KJ (it's not KilimanJaro) ;)
Membayangkan perjalanan laut selama 2 jam ke Karimun Jawa, menurutku tidak akan terlalu membosankan. Apalagi ini pertama kalinya, sambil wawancara pula. Tapi perkiraan itu tiba-tiba buyar, ketika jam menunjukkan jam 11 siang sementara tanda-tanda mendarat belum tampak. Setitik pulaupun belum kelihatan.Padahal menurut informasi awal, kapal cepat dengan kelas ekonomi, bisnis, dan eksekutif yang berangkat jam 9 pagi dari Pelabuhan Tanjung Mas Semarang ini, akan sampai di Karimun Jawa dalam 2 jam. Ketika jam menunjukkan jam 12 siang, ombak mulai besar, cuaca hujan, kepala mulai tak seimbang alias sedikit pusing, perut lapar, kubuka bekal yang kubeli di pelabuhan tadi. Sambil duduk di kelas bisnis yang full AC, gemelutuk kacang bogor diantara gigiku seperti menyeimbangkan saraf-saraf di kepalaku, sehingga rasa pusing perlahan berkurang berganti dengan kenikmatan mengunyah kacang bogor yang gurih. Tampaknya camilan berasa asin atau gurih sangat tepat dimakan disaat-saat seperti ini. Karena ketika di buritan, aku melihat orang-orang ngemil keripik singkong keju, kentang keju, dan camilan gurih lainnya. Mungkin kalau ngemil makanan manis akan menambah rasa eneg di perut..Aku sendiri ngemil sampai terasa ngantuk dan terbangun ketika kapal hampir merapat. Jam 1 siang.
Si mata sipit Susi menyambutku di pelabuhan Karimun Jawa. Teman semasa di Padepokan Oranye di Malang ini bertugas di Karimun Jawa sejak tahun 2001 an dan terakhir kutemui di acara pernikahannya di Sidoarjo 2003 lalu. Dengan semangat dia menanyakan schedule ku selama di Karimun Jawa yang termasuk wilayah administrasi kabupaten Jepara. Rupanya dia yang akan banyak menemaniku selama di pulau berpenduduk 5 ribu orang ini. Dengan mengendarai mobil operasional Taman Nasional, aku bisa sampai di homestay ‘Hamfah’. Homestay murah meriah, 100 ribu per hari termasuk makan sehari 3 kali. Tapi kondisinya memang tak senyaman hotel bintang 1 sekalipun, tanpa AC, hanya ada kipas angin portable, kamar mandi diluar. Tapi buatku cukuplah, apalagi aku butuh tempat yang menyatu dengan warga setempat dan memberikan suasana kekeluargaan. Ada 5 kamar di home stay ini, dan di kamarku ada 2 tempat tidur untuk 3 orang. Kebetulan ada 2 wartawati lain yang 1 kamar denganku. Banyak homestay serupa di pulau Karimun ini, ada juga hotel dengan fasilitas AC dan kamar mandi di dalam. Ada juga penginapan yang dibuat di tengah laut dengan fasilitas dan harga yang bervariasi. Sebuah penginapan apung dibangun diatas ‘kolam laut’ berisi ikan pemakan daging, seperti hiu dan barakuda. Lantai dan dinding penginapan itu terbuat dari kayu. Ada juga resort mewah milik warga asing yang dibangun di pulau lain di kepulauan Karimun Jawa.
Selama di Karimun Jawa aku hanya mengunjungi bibir pantai pulau Menjangan Besar, menggunakan perahu motor sekitar 5 menit saja dari Karimun. Pulau Menjangan Besar ini milik seorang pengusaha Tionghoa asal Semarang. Aku juga mendapat kesempatan ngobrol dengan pemilik pulau itu sewaktu di kapal. Dia membeli pulau itu puluhan tahun yang lalu dengan harga sekitar 35 rupiah per meter persegi, sementara luas pulau Menjangan Besar sekitar 5 hektar. Taman Nasional sendiri numpang untuk lahan konservasi penyu mereka di pulau Menjangan Besar. Dan bukan cuma pulau Menjangan Besar yang jadi milik pribadi. 22 pulau dari 27 pulau di dalam kawasan taman Nasional adalah milik pribadi, bukan sekedar hak pakai. Tapi ada yang memanfaatkan bibir pantai pulau Menjangan Besar yang jernih itu, dengan budidaya ikan laut, seperti ikan Kerapu dan ikan Lody.
Si mata sipit Susi banyak memberiku informasi untuk mengenali kawasan Taman Nasional, layaknya seorang guide. Akhirnya dia melepas kepulanganku ke Semarang. Sama- sama punya harapan bisa bertemu di Karimun Jawa lagi dengan situasi yang lebih baik. Bisa menikmati sunset di Menjangan Kecil, yang katanya luar biasa indahnya. Bisa ke Pulau Parang yang katanya banyak terdapat buah-buahan. Bisa ke Legon Lele, tempat terindah di Pulau Karimun Jawa. Bisa ke Pulau Kemujan, pulau padat mangrove di utara Karimun yang hanya dihubungkan sebuah jembatan dari Pulau Karimun. Meski dalam waktu dan jangakuan yang terbatas, setidaknya daftar Taman Nasional yang pernah aku kunjungi bertambah 1. Setelah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Alas Purwo, dan Taman Nasional Baluran. Sayonara. Oya..aku ingin ke pulau ini lagi membawa sepeda ;)
March 19, it's my sister's birthday.


Comments