Rindu Tebal
Aku merasakan hawa dingin dari kaca jendela mobil. Kaca mobil yang ketika akan ditutup lagi harus dibantu ditarik. Ketika menyusuri jalan makadam dengan kecepatan kurang dari 20 km/jam, aroma tak sedap menyeruak kedalam mobil, beberapa ekor lalat juga ikut masuk. Ah..rupanya bau itu berasal dari tumpukan pupuk kandang di tepi jalan. 2 orang laki-laki berada di tengah-tengah tumpukan itu tersenyum ramah menyapa penumpang mobil yang lewat. Sementara laki-laki lainnya berjalan menjauhi tumpukan kotoran itu sambil membawa keranjang di kepalanya, yang penuh kotoran tadi. Apa mereka sedang flu?hidung mereka tersumbat?sehingga tak mencium aroma yang…terbawa kedalam mobil meski sudah berjarak 50 meter masih juga tercium…Kondisi yang sangat biasa terjadi di perkebunan dataran tinggi.
Berjalan menyusuri jalan dusun Brajan kecamatan Pakis kabupaten Magelang yang menanjak ini seperti membawa ingatanku kembali ke lokasi PKL ku tahun 1999 lalu. Di dusun Ranu Pani desa Argosari Lumajang, di kaki Gunung Semeru. Hawa gunung yang menusuk kulit, orang-orang dengan pipi merah, air dari selang atau pipa yang mengucur terus menerus di hampir setiap halaman rumah. Rumah-rumah berlantai tanah..atapnya tak terlalu tinggi..dan bunga-bunga liar berwarna mencolok yang tumbuh liar di halaman. Bedanyakali ini aku menemui sebuah keluarga, dengan 2 orang anak perempuan masing masing umurnya 10 tahun dan 2 setengah tahun yang diduga mengalami gangguan akibat kekurangan iodium.
Rumah keluarga ini terbuat dari kayu. Hanya ada ruang tamu, 1 ‘kamar tidur’sebut saja begitu, dan 1 dapur. Di ruang berfungsi sebagai kamar itu Cuma ada sebuah bale bambu yang diberi alas karpet hijau dan dilengkapi beberapa buah bantal lusuh bin kempet. Ibu anak itu meraih anak perempuan yang berumur 10 tahun. Kain alas tidur anak perempuan itu basah, dan ibunya mengambilkan celana dan dengan telaten memakaikan pada anak itu. Anak umur 10 tahun itu bukan sakit biasa. 10 tahun ini dia hanya bisa berbaring..tak bisa duduk sendiri, berdiri, apalagi berjalan. Tinggi badannya tak kurang dari 100 cm. Anak itu hanya bisa meneriakkan AAA....untuk berkomunikasi dengan orang lain..dan tentu saja menangis. Ketika kulihat matanya, tampak tak fokus memandang sesuatu.
Aku meninggalkan desa itu dengan rasa yang campur aduk. Sampai kapan kedua anak itu akan bertahan dengan kondisi seperti itu? Bagaimana ketika usianya mencapai 17 tahun nanti?Bagaimana orang tuanya ketika sudah tak sanggup merawat keduanya?Dan kenapa suami ibu itu tak membantu merawat kedua anaknya?Untuk pertanyaan yang terakhir ini aku diberitahu warga setempat, kalau suaminya menikah lagi atas permintaan si istri..
“Ketep Pass” sebuah tulisan besar di dekat areal parkir di puncak perbukitan menghapuskan semua pertanyaan-pertanyaan tentang keluarga di dusun Brajan tadi. Aku kemudian larut dalam sensasi melepaskan rindu pada pegunungan dan hawa dingin. Dari Ketep Pass ini aku bisa melihat gunung Merapi dan Merbabu bersisian, meski puncaknya tertutup kabut. Dari tempat ini juga aku bisa melihat di kejauhan jalur yang membelah merapi merbabu. Kalo gak salah namanya Selo..jalur yang dibuat pemprov Jateng untuk mengalihkan wisatawan dari Jogja. Pemprov Jateng kabarnya ingin wisatawan dari Solo tak perlu melalui Jogja untuk menuju Borobudur. Begitu juga sebaliknya. Tapi kalau aku boleh memilih..Jogja tetap wajib untuk disinggahi..
Perjalananpun terus berlanjut..semakin jauh dari hawa dingin kaki Merapi – Merbabu. Dan kembali menyimpan kerinduan akan hawa dingin..gemuruh angin gunung..dan kabut yang belum sempat kujumpai di merapi-merbabu. Ntah kapan rindu itu akan terurai kembali.....
Jelang purnama Maret 2006, Magelang.


Comments